Sejarah Keraton Kesepuhan Cirebon sekarang niminati wisatawan

Sejarah Keraton Kesepuhan Cirebon

sekarang niminati wisatawan

Seperti yang kita ketahui Cirebon dijuluki sebagai Kota Udang, dikarenakan udang merupakan salah satu hasil perikanan terbesar masyarakat di Cirebon.

Selain itu Cirebon juga dijuluki sebagai Kota Wali Karena dulu Sunan Gunung Jati atau yang bernama asli Syekh Syarif Hidayatullah menjadikan Cirebon sebagai tempat penyeberan Agama islam yang ditandai oleh berdirinya kerajaan baru di Cirebon.

Adapun keraton Kasepuhan ialah keraton yang paling megah Serta terawat, dan Paling tua di Cirebon.

Keraton ini dibangun pada tahun 1529 oleh pangeran mas Zainul Arifin. Dahulu keraton ini dinamakan keraton pakungwati, hebatnya lagi Kesultanan Mataram dalam membangun keraton dan bangunan penunjuangnya terinspirasi dari gaya arsitektur keraton kasepuhan Cirebon.

Tata letak Arsiktektur Keraton kasepuhan sama halnya seperti keraton – keraton yang ada di wilayah Cirebon, yaitu menghadap ke arah utara.

Mau Tambah Wawasan lagi gak Nih, Inilah  Bagian dalam keraton terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih, didalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja dan Para pengabdinya.

Siti Inggil memiliki dua gapuraya itu gapura adia terletak disebelah utara dan gapura banteng terletak disebelah selatan, keduanya  bermotif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit.

Di pelataran depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat, dibangun pada tahun 1800-an sebagai bangunan tambahan untuk tempat Beristirahat.

Nah sedangkan di halaman dalam Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsinya masing-masing.

  • Salah satunya ialah Mande Malang Semirang, merupakan bangunan utama yang jumlah tiang keseluruhannya 20 buah melambangkan sifat-sifat Allah SWT. Sedangkan tiang utamanya 6 buah, melambangkan rukun iman. Bangunan ini yang biasa dipakai duduk oleh sultan dan keluarganya untuk melihat latihan keprajuritan dan melihat pelaksanaan hukuman

  • Mande Pendawa Lima

Terletak di sebelah kiri bangunan utama merupakan tempat duduk para pengawal pribadi sultan, jumlah tiang penyangga nya 5 buah yang melambangkan rukun islam.

  • Sedangkan di sebelah kanan bangunan utama merupakan tempat duduk penasehat sultan / penghulu disebut  dengan bangunan mande semar tinandu, tiangnya berjumlah 2 melambangkan kalimat syahadat.
  • Mande Pengiring, bangunan di belakang bangunan utama yang merupakan tempat para pengiring Sultan
  • Terakhir bangunan di sebelah mande pengiring yaitu Mande Karasemen tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan / gamelan Bahkan sampai sekarang masih digunakan untuk membunyikan gamelan Sekaten (Gong Sekati), jika kalian ingin melihatnya, datanglah pada saat Idul Fitri dan Idul Adha.

Untuk tempat beribadah disini ada Tajug Agung atau dalam bahasa Indonesia artinya mushola agung, terdapat dua area yaitu

Halaman pengada untuk memarkirkan kendaraan, dan halaman tempat berdirinya tajug agung.

Sampai sekarang tajug ini masih dipakai sebagai salah satu fasilitas di keraton kasepuhan untuk pengunjung jika ingin melaksanakan shalat.

Dari banyaknya koleksi di museum yang di keramatkan salah satunya adalah kereta Singa Barong (kereta paksinagaliman) dibuat pada tahun 1571 saka/ 1649 masehi, yang terbentuk dari gabungan 4 hewan yaitu singa / macan, gajah, garuda, dan naga.

Singa barong ini di buat pada tahun 1571 saka atau 1649 masehi.

Kereta ini hanya dikeluarkan pada 1 Syawal dalam Ritual Pemandian dalam ritual tersebut bukan hanya kereta singa barong saja tapi barang pusaka juga

Nahloo singa barong aja mandi masa kalian enggak,

Di depan keraton Kesepuhan terdapat Alun-alun yang dulunya bernama Alun-alun Sangkala Buana, tempat latihan keprajuritan pada hari Sabtu(Saptonan), juga pentas perayaan kesultanan, tempat rakyat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman dari Sultan Keraton Kesepuhan Loh.

Saat melewati Lawang / pintu Geledegan. Kita bias langsung melihat sebuah taman berukuran 20 m2 memiliki bentuk melingkar yang jiak dalam perspektif orang.

Cirebon dimaknai sebagai pengeling (pengingat) agar manusia selalu mau mengajak orang dari jalan yang gelap menuju jalan yang terang yang diberkahi Allah SWT.

Di Taman Dewandaru terdapat sebuah lambing keluarga besar pajajaran dalam bentuk patung macan putih,ada pun pohon Soko (lambang suka hati), meja dan dua buah bangku serta sepasang meriam yang dinamakan meriam Ki Santomo dan Nyi Santoni.

  • Tugu Manunggal, sebuah batu yang berukuran sekitar 50 cm, dikelilingi pot bunga melambangkan tuhan hanya satu yaitu allah swt.

  • Lunjuk, bangunan yang berukuran 10 x 7 m, bangunaniniberada di sebelah Tugu Manunggal,berfungsiuntuk melayani tamu dalam mencatat dan melaporkan urusannya menghadap raja.

  • Sri Manganti, bangunan ini berbentuk bujur sangkar, berada di sebelah tugu manunggal. Bangunan ini terbuka tanpa dinding, atap berbentuk joglo dengan genteng dan dilengkapi dengan 4 tiang saka guru, 12 tiang tengah dan 12 tiang luar. Langit-langit dipenuhi ukiran-ukiran yang berwarna putih dan coklat sehingga menambah pesona keindahan dari bangunan ini. Bangunan ini berfungsi sesuai dengan namanya yaitu sebagai tempat menunggu keputusan raja.
  • Bangunan induk keraton, merupakan tempat sultan untuk melakukan kegiatan kesultanan.

Kutagara Wadasan dan Kuncung yang dibangun oleh Sultan Sepuh I Syamsudin Martawidjaja pada tahun 1678

Bangunan Induk keraton, Bangunan induk keraton merupakan tempat Sultan melakukan kegiatan kesultanan, di dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda – beda.

  • Kutagara Wadasan, bangunan yang mempunyai lebar 2,5 m dan tinggi ± 2,5 m, dibangun oleh Sultan Sepuh I Syamsudin Martawidjaja pada tahun 1678. Kutagara Wadasanyaitu gapura yang bercat putih dengan gaya khas Cirebon, gaya Cirebon terpancar pada bagian bawah kaki gapura yang berukir wadasan dan bagian atas dengan ukiran mega mendung. Arti ukiran tersebut menyatakan bahwa seseorang harus mempunyai pondasi yang kuat jika sudah menjadi pemimpin dan jadilah pemimpin yang bisa mengayomi bawahan dan rakyatnya.
  • Kuncung, bangunan yang berukuran 2,5 x 2,5 x 2,5 m dibangun oleh Sultan Sepuh I Syamsudin Martawidjaja pada tahun 1678 yang digunakan parkir kendaraan sultan.
  • Jinem Pangrawit, tempat yang berfungsi sebagai tempat Pangeran Patih dan wakil sultan dalam menerima tamu, nama Jinem Pangrawitberasal dari kata jinem (bahasa Indonesia yang berarti tempat tugas) dan Pangrawit / Rawit (bahasa Indonesia yang berarti kecil dan bagus), berlantai marmer, dinding tembok yang berwarna putih dan dihiasi keramik Eropa menambah keindahan paras bangunan yang satuini, semakin indah dan kokoh sepert cintaku padamu bangunan ini dilengkapi Atap dan 4 tiang saka guru kayu dengan umpak beton.
  • Gajah Nguling,bngunan yang dibangun oleh Sultan Sepuh IX Radja Sulaeman pada tahun 1845, yaitu ruangan tanpa dinding dan terdapat 6 tiang bulat bergaya tuscansetinggi 3 m. Lantai tegel dan langit-langit berwarna hijau, sesuai dengan namanya,ruangan ini bentuk gajah yang sedang nguling (menguak) dengan belalainya yang bengkok sehingga ruangan ini tidak memanjang lurus tapi menyerong dan menyatu dengan bangsal Pringgandani, ruangan ini dibuat agar musuh tidak langsung lurus menuju sultan.
  • Bangsal Pringgandani, berada di sebelah selatan ruangan Gajah nguling. Ruangan ini memiliki 4 tiang utama segi empat berwarna hijau yang berfungsi sebagai tempat menghadap para abdi dan dapat juga dipakai sebagai tempat sidang warga keraton.
  • Bangsal Prabayaksa, berada di selatan bangsal Pringgandani. “Prabayaksa” berasal dari kata praba artinya sayap dan yaksa artinya besar berarti bahwa Sultan melindungi rakyatnya dengan kedua tangannya yang besar. Pada dinding ruangan bangsal Prabayaksa terdapat relief yang diberi nama Kembang Kanigaran(bahasa Indonesia yang melambangkan kenegaraan) sedangkan yang dimaksud dengan pangeling (bahasa Indonesia yang berarti pengingat) bahwa kamu selalu ada di hatiku dan selalu menghantui mimpiku, eeeehhhh maksudnya Sultan selalu mengingat pemerintahannya yang dituntut harus welas asih kepada rakyatnya.
  • Bangsal Agung Panembahan,bangun yang bersamaan dengan bangunan keraton sewaktu masih bernama keraton Pakungwati padatahun 1529, merupakan ruangan yang berada di selatan,bangunan satu meter lebih tinggi dari bangsal Prabayaksa ini berfungsi sebagai singgasana Gusti Panembahan.
  • Pungkuran,sebuah kata yang berasal dari bahasa Cirebon yang mempunyi arti halaman belakang rumah merupakan ruangan serambi yang terletak di belakang keraton.
  • Kaputran, berada di sebelah timur Bangsal Pringgandani, berfungsi sebagai tempat tinggal para putra
  • Kaputren, berada di sebelah barat Bangsal Pringgandani, berfungsi sebagai tempat tinggal para putri yang belum menikah
  • Dapur Maulud, berada di depan Kaputreankata kaputrean yg berarti tempat para putri menghadap timur, berfungsi sebagai tempat memasak ketika menepati bulain maulid ,yang biasanya terdapat suatu acara yait memperingati Maulid Nabi SAW.
  • Pamburatan, berada di selatan Kaputren Pamburatan / Buratberasal dari bahasa Cirebon (bahasa Indonesia membuat boreh atau bubuk), Pamburatan berfungsi sebagai tempat mengerik kayu-kayu wangi (kayu untuk boreh) untuk kelengkapan selamatan Maulud Nabi SAW.

Ada empat keraton di Cirebon yang ditetapkan menjadi objek vital yang harus dilindungi, yaitu keraton kasepuhan, kanoman, kacerbonan, dan keprabonan. Penilaian tersebut berdasarkan pertimbangan dari institusi kepolisian,dengan adanya penilaian tersebut maka kepolisian setempat wajib menempatkan personilnya untuk melakukan penjagaan di keraton tersebut, termasuk di antaranya keraton Kasepuhan, penilaian tersebut berdasarkan pertimbangan dari institusi kepolisian.

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat menyambut baik  penetapan empat keraton yang di jadikan objek vital di kota cirebon, menurut Sultan Sepuh XIV penetapan keraton sebagai objek vital merupakan sebuah tanda atau pengakuan akan pentingnya keraton itu sendiri.

Bentuk realisasi di tetapkannya objek vital ialah

Pengamananoleh 2 personil pihak kepolisian, Patrolioleh 2 personil pihak kepolisian, dan 10 personel kepolisian bila ada kegiatan, juga all out pengamanan untuk acara tertentu dalam skala besar.

Jika kalian Penasaran Maka kalian dapat Masuk ke keraton dan akan lebih tau manakah yang dinamakan setiap Keterangan yang kami tulis.

Dan Kalianpun akan kagum atas sebagian Sisa sejarah Kota cirebon.

Namum Sekarang terdapat pembaharuan hanya di bagian bagian tertentu saja, Seperti Di tempat Musium Keraton Yang mungkin kalian sudah tak lama berkunjung.

Dikarnakan sudah Tersususn Rapih dan Sangat terwat Hingga penempatannyapun sudah di Sesuaikan dengan Bagian-bagian sejarahnya masing-masing.

Kilasan Momen Palingterkesan dalam Perjalanan Tour Cirebon Dan kalian Bisa Mengetahui siapasaja yang sudah Berkunjung di Keraton Kesepuhan, Klick

Www.Travelingcirebon.com

 

 

  • Silsilah

– Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) (bertahta dari 1479 – 1568)

– P. Adipati Pasarean (P. Muhammad Arifin) (hidup dari 1495 – 1552)

– P. Dipati Carbon (P. Sedang Kamuning) (hidup 1521 – 1565)

Panembahan Ratu Pakungwati I (P. Emas Zainul Arifin) (bertahta dari 1568 – 1649)

– P. Dipati Carbon II (P. Sedang Gayam) (-)Panembahan Ratu Pakungwati II (Panembahan Girilaya) (bertahta dari 1649 – 1666)

etelah pembagian kesultanan Cirebon, Kasepuhan dipimpin oleh anak pertama Pangeran Girilaya yang bernama Pangeran Syamsudin Martawidjaja yang kemudian dinobatkan sebagai Sultan Sepuh I.[11],[12]

 

Sultan Sepuh I Sultan Raja Syamsudin Martawidjaja (bertahta dari 1679 – 1697)

Sultan Sepuh II Sultan Raja Tajularipin Djamaludin (bertahta dari 1697 – 1723)

Sultan Sepuh III Sultan Raja Djaenudin (bertahta dari 1723 – 1753)

Sultan Sepuh IV Sultan Raja Amir Sena Muhammad Jaenuddin (bertahta dari 1753 – 1773)

Sultan Sepuh V Sultan Sepuh Sjafiudin Matangaji (bertahta dari 1773 – 1786)

Sultan Sepuh VI Sultan Sepuh Hasanuddin (bertahta dari 1786 – 1791) bertahta menggantikan saudaranya Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji

Sultan Sepuh VII Sultan Sepuh Djoharudin (bertahta dari 1791 – 1815)

Sultan Sepuh VIII Sultan Sepuh Radja Udaka (Sultan Sepuh Raja Syamsudin I) (bertahta dari 1815 – 1845[13]) menggantikan saudaranya Sultan Sepuh VII Sultan Djoharuddin

Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman (Sultan Sepuh Raja Syamsudin II) (bertahta dari 1845 – 1853)

Perwalian oleh Pangeran Adiwijaya bergelar (Pangeran Syamsudin IV) (menjadi wali bagi Pangeran Raja Satria dari 1853 – 1871)

Pangeran Raja Satria (memerintah dari 1872 – 1875) mewarisi tahta ayahnya Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman sebagai putera tertua Sultan Sepuh IX yang sah, setelah meninggalnya walinya yaitu Pangeran Adiwijaya sesuai dengan penegasan Residen Belanda untuk Cirebon tahun 1867

Pangeran Raja Jayawikarta (memerintah dari 1875 – 1880) menggantikan saudaranya Pangeran Raja Satria

Sultan Sepuh X Sultan Radja Atmadja Rajaningrat (bertahta dari 1880 – 1885) diangkat sebagai Sultan untuk menggantikan saudaranya yaitu Pangeran Raja Jayawikarta

Perwalian oleh Raden Ayu (Permaisuri Raja) menjadi wali bagi Pangeran Raja Adipati Jamaludin Aluda Tajularifin dari 1885 – 1899

Sultan Sepuh XI Sultan Sepuh Radja Jamaludin Aluda Tajularifin (bertahta dari 1899 – 1942)

Sultan Sepuh XII Sultan Sepuh Radja Radjaningrat (bertahta dari 1942 – 1969)

Sultan Sepuh XIII Pangeran Raja Adipati DR.H. Maulana Pakuningrat. SH (bertahta dari 1969 – 2010)[14]

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat. SE (bertahta dari 2010 – sekarang).[15]

Demikian Penkjelasan Dari kami Seputar sejarah Kraton kasepuhan Cirebon

Trimakasi sudah berkenan menyimak Artikel dari Kami Travelingcirebon.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *