Legenda Dibalik Curug Bangkong

Curug Bangkong. Curug Bangkong adalah sebuah curug atau air terjun yang berada di desa Kertawirama kecamatan Nusaherang kabupaten Kuningan. Curug ini memiliki dua hal yang menjadi daya tarik dikalangan pencinta traveling. Curug ini memiliki keindahan yang tidak usah diragukan. Debit air curug ini mengalir secara deras dihiasi pemandangan tebing disekitarnya yang ditumbuhi tumbuhan pinggiran sungai yang liar dan lebat. Di Curug ini terdapat sebuah kolam yang sengaja dibuat oleh masyarakat dan ada pula sebuah aliran irigasi yang tersambung dengan kolam. Namun menurut kepercayaan masyarakat, pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang di kolam yang ada di Curug Bangkong.

Inilah yang menjadi daya tarik lain dari Curug Bangkong, yaitu ada cerita misteri yang menyelimuti keindahan Curug Bangkong. Tentu ini menjadi daya tarik tersendiri terutama bagi traveler yang menyukai dunia mistis. Masyarakat melarang pengunjung untuk berenang bukan tanpa sebab, melainkan di Curug ini dahulu sering ditemukan mayat manusia. Menurut kepercayaan masyarakat saat itu, mayat tersebut merupakan tumbal Curug Bangkong. Ada satu pemuda bernama Yoyo pada waktu Indonesia belum merdeka, yaitu sekitar tahun 1944 dengan tanpa sebab meninggal di Curug Bangkong dan hingga kini Jasadnya belum ditemukan. Ada pula pada tahun 2002 seorang pemuda bunuh diri dengan cara menggantungkan dirinya di area sekitar curug.

Ada sebuah celah kecil yang ada di sebelah kiri curug yang berukuran tinggi 1 meter dan lebar 0,8 meter. Celah itu merupakan sebuah gua yang menurut spiritualis sunda dalamnya ± 800 meter. Berdasarkan legenda setempat, dahulu digua tersebut ada seorang petapa yang melakukan tirakat bernama Wiria. Ditengah-tengah pertapaannya, Wiria bersosialisasi dengan penduduk setempat dan mengajarka tata cara membuat gula merah. Semakin lama penduduk semakin tertarik untuk belajar kepada Wiria. Wiria kemudian diberi sebutan Abah Wiria sebagai bentuk penghormatan penduduk kepada beliau yang telah mengajari penduduk sehingga itu menjadi mata pencaharian penduduk.

Namun Abah Wiria kembali mendapat panggilan batin untuk tirakat. Maka Abah Wiria melakukan tirakat di Gua yang berada di sebelah kiri curug itu. Lambat laun, masyarakat akhirnya kehilangan sosok Abah Wiria dan mencari-cari ke pelosok desa. Tapi masyarakat memperkirakan bahwa Abah Wiria melakukan tirakat di gua yang berada di dekat curug dan berhasil Moksa. Itu tandanya tapa bratanya telah sempurna sehingga Abah Wiria pun menghilang karena masyarakat tidak menemukan jasad Abah Wiria disana. Penamaan Curug Bangkong sendiri berawal sejak Abah Wiria melakukan tirakat, di sekitar Curug sring terdengar suara Bangkong atau Kodok yang dahulu tak pernah terdengar ada suara bangkong di area itu. Yang menambah keyakinan masyarakat ialah ketika suara bangkong tersebut didekati, suara tersebut hilang. Masyarakat percaya bahwa Abah Wiria menjelma menjadi Bangkong atau kodok.

Itulah 2 sisi yang tidak bisa dipisahkan dari Curug Bangkong, bagi Traveler terutama yang menyukai dunia misteri, Curug Bangkong adalah destinasi yang patut dikunjungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *